Laboratorium Alam Restorasi Gambut

1.     Lab. Alam Gambut Tanjung Leban

Lokasi ini awalnya merupakan lahan gambut yang ditanami kelapa sawit yang telah hancur total akibat kebakaran. Berbagai eksperimen restorasi telah dilakukan, dan meskipun banyak yang gagal, pembelajaran berharga telah dipetik. Setelah hampir delapan tahun upaya berkelanjutan, lokasi ini mulai menunjukkan tanda-tanda keberhasilan restorasi gambut. Pada tahun 2021, Pusat Unggulan Iptek (PUI) Gambut dan Kebencanaan menerima hibah dari United Nations Offices for Project Services (UNOPS) untuk mendirikan fasilitas yang didedikasikan untuk berbagi pengetahuan tentang restorasi gambut (Gambar 1). Fasilitas-fasilitas ini sejak saat itu telah menarik beragam pengunjung, termasuk mahasiswa, kelompok sekolah, instansi pemerintah, Badan Restorasi Gambut, dan bahkan peneliti internasional yang tertarik untuk mempelajari praktik restorasi gambut yang efektif.

Gambar 1. Lab Alam Gambut Tanjung Leban, bukti nyata keberhasilan restorasi gambut bersama masyarakat yang bisa diambil banyak pembelajaran


2.     Lab. Alam Gambut Meranti

Lokasi ini pada awalnya merupakan area demplot restorasi gambut yang dibentuk melalui intervensi tim peneliti dari Pusat Unggulan Iptek Gambut dan Kebencanaan (PUI-GK) bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) pada tahun 2017. Sejak saat itu, berbagai kegiatan riset aksi telah dilakukan di lokasi ini, termasuk inovasi teknik penyekatan kanal untuk pembasahan ulang lahan gambut, uji coba penanaman berbagai jenis komoditas tanaman, budidaya ikan yang disesuaikan dengan kondisi lahan gambut, serta penerapan pendekatan sosial untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya restorasi berkelanjutan.

Seiring waktu, kawasan ini berkembang menjadi sebuah laboratorium alam yang tidak hanya berfungsi sebagai lokasi penelitian, tetapi juga dimanfaatkan secara luas untuk kegiatan kuliah lapangan dan pelatihan teknis oleh berbagai institusi (Gambar 4). Peran strategis laboratorium alam ini dalam mendukung restorasi berbasis ilmu pengetahuan mendapat perhatian internasional. Pada tanggal 13–16 November 2018, lokasi ini dikunjungi dan mendapat apresiasi dari komunitas internasional pemerhati gambut (Gambar 5), antara lain dari International Peatland Society (IPS), Japan Peatland Society (JPS), United Nations for Disaster Preparedness (UNDP), Badan Litbang dan Inovasi Kehutanan (FORDIA), Research Institute for Humanity and Nature (RIHN), serta Himpunan Gambut Indonesia (HGI).

Gambar 4 Pelaksanaan Diklat tentang pengelolaan ekosistem gambut oleh KLHK di Laboratorium Alam UNRI-BRG, Desa Lukun Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti

A group of people standing on a river

Description automatically generatedA group of people posing for a photo

Description automatically generated

Gambar 5 Pelaksanaan 2nd Tropical Peatland Roundtable, ajang pertemuan para peneliti gambut dunia di Batam yang melakukan kunjungan lapangan ke Lab. Alam Gambut Meranti

3.     Lab. Alam Gambut Bengkalis.

Sistem Peringatan Dini dan Sistem Pencegahan Bencana Bog-Burst dan Karhutla di Lahan Gambut

 

Awalnya lokasi ini adalah plot riset kerja sama antara UNRI, Politeknik Bengkalis dan Yamaguchi University untuk riset terkait abrasi pantai gambut. Kegiatan riset telah dimulai sejak 2013 dengan menggunakan berbagai sumber pembiayaan, diantaranya JSPS Jepang, Bilateral Exchange Project DIKTI-JSPS, dan Matching Fund, DIKTI. Berbagai fasilitas dan peralatan penelitian telah dipasang selama penelitian hampir 11 tahun, sehingga peralatan tersebut bisa dipakai oleh mahasiswa untuk kegiatan praktikum maupun penelitian untuk Tugas Akhir. Peralatan yang telah ada antara lain adalah alat monitoring audio-visual pergerakan tanah gambut, alat pantau muka air tanah, real time AWS (automatic weather station), alat monitoring pasang surut air laut, alat pantau tinggi muka air tanah berbasis Masyarakat, inclinometer untuk memantau Gerakan tanah, dll.