Pekanbaru – Pusat Studi Gambut dan Kebencanaan (Center for Peatland and Disaster Studies/CPDS) Universitas Riau menyelenggarakan Pelatihan UAV Drone dan Fotogrametri bagi peneliti muda pada 15 Agustus 2025 di Selat Baru, Bengkalis. Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan teknis dan pengetahuan praktis dasar dalam pengoperasian (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) drone serta pengolahan data fotogrametri guna mendukung riset lingkungan dan kebencanaan.
Pelatihan ini diawali penjelasan oleh Koordinator PUI Gambut dan Kebencanaan Universitas Riau selaku instruktur utama. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa penguasaan teknologi UAV saat ini merupakan keterampilan yang sangat dibutuhkan oleh peneliti, terutama untuk keperluan pemetaan wilayah, pemantauan perubahan lingkungan, dan mitigasi risiko bencana.
“Dengan UAV, kita dapat mengumpulkan data spasial yang akurat dan terkini dalam waktu yang jauh lebih singkat. Ini akan sangat membantu peneliti dalam menghasilkan kajian yang kuat dan berbasis bukti,” ujarnya.

[Gambar 1: Foto pembukaan kegiatan – instruktur memberi pemaparan dan peserta menyimak]
Pelatihan ini diikuti oleh peserta dari beragam latar belakang, antara lain empat mahasiswa S1 Universitas Riau yang sedang menyelesaikan tugas akhir di Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik dan Program Studi Biologi FMIPA, seorang mahasiswa Magister Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau, seorang mahasiswa S1 dari Yamaguchi University Jepang, serta para dosen peneliti muda. Keberagaman latar belakang ini membuat diskusi berlangsung dinamis karena setiap peserta membawa perspektif penelitian yang berbeda.
Pada sesi pertama, instruktur memberikan materi pengantar mengenai manfaat UAV dan fotogrametri. Peserta mempelajari bagaimana teknologi ini digunakan untuk pemetaan wilayah, pemantauan kondisi vegetasi, survei topografi, serta dokumentasi foto dan video. Instruktur juga menjelaskan bagaimana citra udara dapat diintegrasikan dengan perangkat lunak pemetaan untuk menghasilkan peta tematik yang presisi. Contoh-contoh studi kasus pemanfaatan UAV di lahan gambut, daerah pesisir, dan wilayah rawan bencana turut disampaikan.

[Gambar 2: Foto pemaparan materi – instruktur menunjuk layar drone]
Sesi kedua berfokus pada aspek teknis perangkat. Peserta diperkenalkan pada komponen utama drone, mulai dari rangka, baling-baling, kamera multispektral dan RGB, sensor navigasi, hingga sistem kendali jarak jauh. Instruktur menjelaskan fungsi masing-masing bagian, cara perawatan, hingga tips penggantian komponen agar umur pakai perangkat lebih panjang. Peserta kemudian melakukan simulasi perakitan untuk memahami alur pemasangan komponen dan prosedur pre-flight check.

[Gambar 3: Foto peserta memegang dan merakit bagian-bagian drone]
Pada sesi ketiga, peserta diajak langsung ke lapangan untuk mempraktikkan pengoperasian dua jenis drone, yaitu DJI Mavic 3M dan DJI Phantom 4. Peserta secara bergiliran mencoba Mengatur rute penerbangan otomatis menggunakan aplikasi control, melakukan lepas landas dan pendaratan yang aman, mengambil citra udara dengan pengaturan resolusi yang tepat, memantau stabilitas terbang dan kualitas gambar secara real-time.

[Gambar 4: Foto peserta mengoperasikan drone]
Kegiatan ini mensimulasikan misi pemetaan yang sebenarnya, mulai dari persiapan, penerbangan, hingga pengumpulan data. Peserta juga belajar mengidentifikasi faktor cuaca, arah angin, dan kondisi medan yang mempengaruhi kualitas penerbangan.

[Gambar 5: Foto drone DJI Phantom 4 saat terbang di area pelatihan]
Pelatihan ini mendapat respons positif dari peserta yang merasa mendapat pengalaman langsung mengoperasikan peralatan berteknologi tinggi sekaligus memahami proses ilmiah di baliknya. CPDS berencana mengadakan pelatihan lanjutan dengan fokus pada analisis data spasial dan penerapannya untuk pemetaan risiko bencana serta perencanaan pengelolaan wilayah gambut berkelanjutan.