PUI-GK / CPDS Inisiasi Kerja Sama dengan NTU, Singapore

Pusat Unggulan Iptek Gambut dan Kebencanaan (PUI-GK) / Center for Peatland & Disaster Studies (CPDS) Universitas Riau resmi memulai inisiasi kerja sama riset dengan Asian School of the Environment (ASE), Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Kolaborasi ini berangkat dari surat ASE yang ditujukan kepada Direktur CPDS, Dr. Sigit Sutikno, bertanggal 29 Agustus 2025, yang menyampaikan apresiasi sekaligus agenda kunjungan untuk membahas potensi kolaborasi dan peninjauan lokasi penelitian pada 22–28 September 2025.

Dalam surat tersebut, NTU menugaskan tim yang terdiri dari Nur Estya Binte Rahman dan Jessie Qian Xintong (mahasiswa doktoral ASE), serta Dr. Zu Dienle Tan (peneliti ASE/EOS), dengan pendampingan akademik dari Associate Professor Janice Ser Huay Lee. Tim ini akan berkolaborasi dengan CPDS untuk mengkaji dinamika karbon gambut dan plant traits pada beragam penggunaan lahan maupun gangguan seperti banjir dan kebakaran, serta menelusuri opsi pemanfaatan alternatif lahan gambut setelah berakhirnya konsesi.

Rangkaian inisiasi dimulai di Pekanbaru dengan pertemuan penyelarasan antara tim NTU dan CPDS-UNRI. Sesi tatap muka perdana ini memastikan tujuan bersama, rencana kerja awal, serta menyepakati pendekatan berbasis bukti ilmiah dan kebutuhan komunitas lokal.

Selepas pertemuan, tim melakukan perjalanan lapangan (recce trip) selama 22–28 September untuk memetakan tapak dan aktor kunci di beberapa lanskap gambut Riau. Agenda utama meliputi pertemuan dengan mitra kolaborasi potensial, survei awal calon lokasi riset, serta percakapan mendalam bersama masyarakat guna memahami konteks sosial-ekologis setempat.

Di Tanjung Leban, tim menyambangi Rumah Runding dan berdiskusi dengan Pak Nur, Pak Rom, serta anggota BBHA. Kunjungan ini membuka ruang dialog mengenai praktik pengelolaan air melalui sekat kanal, sekaligus pengenalan beragam jenis tanaman yang dikelola masyarakat pada lahan gambut. Observasi langsung tersebut membantu tim memetakan pertanyaan riset yang relevan—mulai dari dinamika muka air tanah, komposisi vegetasi, hingga potensi restorasi berbasis komunitas.

Eksplorasi berlanjut ke Temiyang dan kawasan PT. SPM. Di Temiyang, tim berbagi pengetahuan dua arah mengenai praktik pengelolaan lanskap; sementara di PT. SPM, rombongan menelusuri Hutan Lindung dan berinteraksi dengan nelayan setempat untuk memahami ketergantungan penghidupan pada jaringan perairan gambut. Temuan-temuan awal ini memperkaya pemahaman tentang keterkaitan ekologi-sosial, yang kelak menjadi dasar perancangan desain studi jangka panjang.

Di Sungai Tohor, tim mengamati secara langsung dinamika mata pencaharian, memasuki area bekas tebangan, berdiskusi tentang inisiatif kakao yang mulai dirintis komunitas, serta meninjau praktik penanaman yang tumbuh dari inisiatif warga. Kunjungan ke pabrik sagu dan pengamatan sekat kanal melengkapi gambaran mengenai tata kelola air dan ekonomi lokal yang bertumpu pada sumber daya gambut. Seluruh catatan lapangan ini mempertegas pentingnya pendekatan riset yang mengintegrasikan aspek biofisik dengan realitas sosial-ekonomi.

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan membuka jalan bagi penetapan lokasi studi prioritas untuk pengukuran karbon, pemantauan muka air tanah, dan survei vegetasi pada mosaik penggunaan lahan—mulai dari kawasan restorasi, budidaya, hingga hutan lindung. Dengan fondasi niat baik dan jejaring yang kian solid, CPDS-UNRI dan ASE-NTU sepakat melangkah ke tahap perancangan bersama, penajaman pertanyaan ilmiah, serta penyusunan agenda pengumpulan data tahap awal. Kolaborasi ini diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi tata kelola gambut tropis yang berketahanan iklim dan berkeadilan bagi komunitas lokal.

Dokumentasi Kegiatan